Rabu, 11 Januari 2017

ARAH

Ke utara, ku ikuti arah..
menari hening bersama semilir angin
terbang lagi ke selatan..
memetik risau yang selama ini ku biarkan berdebu

Berjalan ku sedikit,
merangkak ku sering,
sakit ku rasa tak membuat ku murka
aku berkawan setia dengan luka..

Memori itu menguap dan terbakar di udara
aku berusaha membacanya
namun semua kabur... buram..
aku hanya bisa mencumbu udara
memperkosa dingin, dan menjamah dedaunan

Pena ku enggan ku sentuh
kertas ku enggan ku tatap
semua marah, semua murka terhadapku
dan aku harus lari kemana?

Hanya seonggok jiwa lama yang ku punya
yang pernah ada dan kini tengah tersesat di belahan tenggara
peduli siapa jika aku tertawa?

Berjalanlah...

Selasa, 25 Oktober 2016

MINOR

Dan aku bergumul dengan denting waktu
Disitu aku tahu kita sama rasa, sama gila..
Dengan ucapan peluh serta degupan meracau
Dua jiwa yang terbelah-belah..
Hingga menghinggaplah segala macam lelah..

Temaram kelam tetap menjadi ksatria
Dalam mengumpulkan energi yang habis diracuni,
Ketika di siang hari..
Ketika orang lain bernafas dan aku berhenti..
Ketika orang lain menyulam cinta dan aku memekik ringkih

Aku menertawakan hasrat yang maju mundur tak berdaya
Hasrat yang bahkan belum mampu menembus kulitku,
Dan kau menganalisa sekumpulan cahaya..
Membias dan berpendar meresap ke dalam lipatan jiwa

Aku sekumpulan minor yang sulit menyatu,
Dan kau serumpun mayor yang kokoh merayu
Tetap sulit diterjang tubuhku meskipun begitu,
Tetap butuh pesawat luar angkasa untuk sekedar kau rengkuh

Kita mengalun dalam tangga nada,
Nyanyian sumbang dan stagnan,
Menyelip bebas ke aliran angan
Aku minor dalam perihal resistensi
Dan kau mayor dalam perihal substansi..

Sabtu, 17 September 2016

PASAR

Aku riuh di tengah kemarau panjang..
Mengeluh dan mengelu-elukan panas yang berlubang
Ramai di luar dan tak berarti di dalam
Menyusuri ombak besar dan Lili yang tertanam
Aku tertegun di tengah pasar,
Mencabik-cabik cakrawala dalam hingar bingar
Peduli apa aku pada kelakar?

Aku termangu melihat anak di sudut itu
Ia lapar, ia mencari cari sampai terkapar..
Aku sudah tak tahan berada di pasar
Kerumunan ini begitu menyiksa
Aku butuh nafas,
Butuh luka dan tawa,
Butuh air mata dan cinta
Butuh senjata untuk mendua..

Kembali aku berjalan liar
Aku masih di kerumunan pasar..
Dimanakah pintu itu, yang sering disebut pintu keluar?
Yang ku temukan hanya muka-muka dua, bahkan tiga
Bertebaran senyum nan rupawan
Aku muak berada di pasar,
Merasa iritasi terhadap sekitar..
Banyak manusia mengais sisa sisa busuknya jiwa,

Dan aku bukanlah pengemis yang sebegitu nya.

Rabu, 08 Juni 2016

TANPA JUDUL

Bukan cerita sekedar, aku masih ingin bercerita
Tentang nikmatnya malam bersama lengkungan bulan temaram
Dingin yang menepis risau, hati ku sehat..
Sehat dari segala tuduhan yang mendekat..
Sehat dari sakit, hati ku kuat.
Bukan cerita cinta, tapi ini cerita  jiwa lembar per lembar
Menyandera sukma ku untuk terus belajar,
Belajar bahwa tak segala ruam harus berlubang dan menjalar
Berlarikah aku ke tepian?
Aku tak melihat pantulan dari aku,
Di beningnya air dan sungai waktu
Aku mencoba menulis
Tentang bagaimana cara manusia memalingkan rupa
Setiap rupa dari yang pernah ada
Menjadi tidak ada..
Memasang tonggak ketulusan sambil berfikir
Tentang bagaimana sepi bercerita kepada ramai
Tentang indahnya hidup dalam keheningan,
Meski terkadang butuh seribu satu pasukan..
Dan ramai bercengkrama dengan sepi
Bagaimana hebatnya hiruk pikuk,
Hingga meluluh lantah kan yang sebenarnya kalbu..
Kita terbiasa dengan hal hal yang biasa

Memaksa masuk menyelinap ke dalam dada

Rabu, 01 Juni 2016

GANDA

Aku adalah karang yang bisa saja berlubang karena hantaman badai
Aku adalah malam yang bisa menina-bobo kan tiap kantung mata kelam
Aku adalah pagi yang mampu menghangatkan dinginnya hati
Aku adalah sore yang menyelinap menyejukkan segala ruam
Aku adalah angin, menyapa pipi lembut dan bercerita melalui tirai
Aku adalah air, mengalir bebas tak pedulikan segala gumam
Aku bisa menjadi aku, aku juga bisa menjadi kamu..

Namun di titik nadir aku harus bisa bertanya..
Tetapkah aku menjadi seorang wanita?
Masihkah aku bisa merasa?
Wanita kah aku?
Atau aku kah wanita?
Ku buka jendela yang menyajikan hawa dingin dan diam
Ku hirup pelan... aku hidup.
Aku adalah tulang yang berbalut kulit, berdiri tegak,
Sujudkan kening dan bersimpuh ampun..


Jumat, 27 Mei 2016

DIORAMA HATI

Hati.. aku jarang membicarakannya
Bahkan akhir akhir ini tak ku kunjungi ia
Bagaimana keberadaannya, bagaimana atmosfirnya.
Sengaja ku biarkan berdebu untuk sementara,
Agar saat ku kembali, aku tau maksud hati.
Hati.. aku jarang menyentuhnya
Bahkan belakangan ini tak ku rasakan getarannya
Bagaimana gelombang asa nya, bagaimana daun pintu nya.
Sampai aku terkecoh dengan ketidak tahuanku sendiri
Bahwa ternyata selama ini aku sudah main hati
Aku sudah mencoba mengoyak bungkusan yang ku tutup rapih
Dan hasilnya mengejutkanku, mengejutkan dada ku..
Aku masih belum bijaksana dalam menentukan arah
Haruskah ku lari ke hutan lalu berteriak marah,
Atau pergi ke gunung lalu tertegun merenung,
Luar biasanya hati sampai aku tak mengerti,
Bagaimana ia bekerja dan terus bekerja selama nafas ku masih ada
Bagaimana ia kembali merangkak dan membuka tabir jiwaku
Mencoba menyusup tanpa izin sang empu..
Hati.. bisakah kau mengerti sebentar saja?
Bahwa aku butuh catatan kosong di relung dada
Bukan seperti ini yang aku mau, bukan seperti ini yang aku rindu..
Karena aku yakin kau mengerti dengan baik apa yang telah ku sentuh,
Apa yang ku rengkuh, dan apa yang akhirnya terlepas dari jemariku..
Biarkan aku berjalan dulu sendiri, duhai hati..
Jangan kau ganggu aku dengan tipu daya mu, naluri mu.

Aku masih rapuh, rapuh bahkan untuk menertawakan diriku sendiri..

Rabu, 13 April 2016

KINI

Kini aku mengerti
Bahwa kedewasaan tak terukur dan tak berumur
Perlu terus diasah, sekaligus diterpa..
Aku sedikit tergelitik untuk bertanya
Apa yang kini menggelayut dalam dada?
Masih belum teraba

Kini aku pahami
Jurang perang tak lagi berkobar
Perang jiwa yang selama ini aku dan kau nyalakan, terang terangan..
Dan aku pun mengerti yang tersisa hanya memoar
Dan gugusan rindu bertepuk ragu

Perjalanan ini sudah tertoreh manis, dara
Tak perlu diusik lagi, apalagi untuk dibuka lagi
Apa yang telah usai jadilah buku baru
Untuk dipelajari di usia nanti
Di usia ketika jiwa siap akan segalanya
Siap menerkam, siap diterkam

Siap terluka, siap sampaikan salam pisah..