Apalah aku yang hanya babu kantoran
Mengetik, mengarsip, mengetik, mengarsip..
Jiwa diubah layaknya mesin
Otak diperas layaknya romusha..
Apalah aku yang hanya babu kantoran
Pergi pagi pulang petang..
Pemuas syahwat konglomerat dan antek perusahaan..
Mendekam mimpiku yang perlahan melambat,
Gugur menjadi abu hingga termakan waktu
Apalah aku yang hanya babu kantoran
Yang ritme hidup seakan sudah habis terjamah
Dengan melepas energi raga demi kepuasan dunia
Begitu malam datang mati ku dikoyak sepi..
Sambil menyiapkan kemeja apa untuk esok hari..
Apalah aku yang hanya babu kantoran
Menggantungkan mimpi dari selembar kertas bergelar..
Mengetik, mengarsip, mengetik, mengarsip..
Makananku berasa seperti huruf-huruf berpapan..
Rabu, 15 Maret 2017
Sabtu, 25 Februari 2017
SEPASANG KEKASIH
Sepasang kekasih duduk bersila kaki,
Kulihat saling mencintai, namun tak berisi..
Yang satu bermain mata, yg lain bermain hati
Sudah terbiasa dengan keheningan yg memilin,
Memaksa senyum simpul berkumpul meski hati terpaut kosong
Sepasang kekasih duduk menyilang tangan,
Saling tatap dan membaca semua angan..
Belajar kembali mencintai ketika benci hampir seluruhnya menjangkiti,
Bersikeras berjalan lurus dan saling mengobati..
Aku penasaran apa yg mereka rasakan
Dapatkah mereka mengingat kapan terakhir kali degup cinta itu menyapa?
Bisakah mereka merasakan lagi hangatnya bibir bibir pertama yg saling mencandu?
Sepasang kekasih duduk, namun bercinta dengan benda mati
Apakah cinta mereka telah sekarat dan sebentar lagi mati??
Sepasang kekasih mati di sudut dinding rindu yg berkarat..
Saling tatap dalam sekarat , menyesal sudah segala yg telah terlewat..
Begitulah dunia memperlakukan mereka yg keterlaluan..
Mereka yg beribu kali melewatkan rimbunnya cinta dan cerita,
Mereka yg terjebak hebat dalam genangan penat..
Kulihat saling mencintai, namun tak berisi..
Yang satu bermain mata, yg lain bermain hati
Sudah terbiasa dengan keheningan yg memilin,
Memaksa senyum simpul berkumpul meski hati terpaut kosong
Sepasang kekasih duduk menyilang tangan,
Saling tatap dan membaca semua angan..
Belajar kembali mencintai ketika benci hampir seluruhnya menjangkiti,
Bersikeras berjalan lurus dan saling mengobati..
Aku penasaran apa yg mereka rasakan
Dapatkah mereka mengingat kapan terakhir kali degup cinta itu menyapa?
Bisakah mereka merasakan lagi hangatnya bibir bibir pertama yg saling mencandu?
Sepasang kekasih duduk, namun bercinta dengan benda mati
Apakah cinta mereka telah sekarat dan sebentar lagi mati??
Sepasang kekasih mati di sudut dinding rindu yg berkarat..
Saling tatap dalam sekarat , menyesal sudah segala yg telah terlewat..
Begitulah dunia memperlakukan mereka yg keterlaluan..
Mereka yg beribu kali melewatkan rimbunnya cinta dan cerita,
Mereka yg terjebak hebat dalam genangan penat..
Minggu, 19 Februari 2017
SALAH
Kau seperti apa yang ku lihat selama ini
Bercahaya, kadang remang mengikuti..
Berembun, kadang api menghampiri..
Dingin, kadang hangat menyelimuti..
Kau liar dan jiwamu kacau,
Aku bisa melihat jelas itu dimatamu
Sudut bilik matamu yang selalu ku rindu,
Matamu seakan bicara tentang rasa kepadaku
Mengajarkanku bahaya yang sering ku sangkal..
Telah kau curi apa yang ku tutup rapat dalam jiwa
Dan dunia mulai berbisik bahwa kita berbeda..
Bongkahan rasa yang haus..
Meminta untuk tegukan demi tegukan candu,
Terus merongrong, terus memaksa untuk bersatu..
Padahal jurang selalu siaga di sekeliling waktu
Memang, kau ada di hati..
Harum mewangi setiap ku intip sesekali,
Rasa ingin ku gapai celah jantungmu,
Namun racun tak henti henti memadatku..
Memberi sinyal akan kebusukan hatiku
Yang ingin memilikimu dalam ikatan satu..
Aku kah yang tega? Atau kamu kah?
Jika cinta berkenan untuk ditanya, ku ingin ajukan satu saja..
Bagaimanakah bentuk dan rupa dari cinta yang salah?
Rabu, 11 Januari 2017
Untitled
Langit langit mengintai,
duri mencengkram,
Jalang dan tak terbendung,
aku pun bisa sujud dan bersimpuh ampun
kepada sang Pemilik Jiwa & seisinya..
namun aku ingin bertanya sekali,
Ada apa dengan dunia?
Hujan merintik gersangnya amarah jalanan
menghantar aroma tanah basah yang memilukan
membawa kembali damai yang sempat menghilang
Sungguh, aku ini tercipta untuk merasakan..
Jika saja cukup dengan ayunan langkah semua menjadi satu,
akan ku ayun kaki ku hingga ke dasar kalbu
tak kan ada yang berani mengganggu,
mengganggu hausnya jiwa yang tengah bertelaga...
duri mencengkram,
Jalang dan tak terbendung,
aku pun bisa sujud dan bersimpuh ampun
kepada sang Pemilik Jiwa & seisinya..
namun aku ingin bertanya sekali,
Ada apa dengan dunia?
Hujan merintik gersangnya amarah jalanan
menghantar aroma tanah basah yang memilukan
membawa kembali damai yang sempat menghilang
Sungguh, aku ini tercipta untuk merasakan..
Jika saja cukup dengan ayunan langkah semua menjadi satu,
akan ku ayun kaki ku hingga ke dasar kalbu
tak kan ada yang berani mengganggu,
mengganggu hausnya jiwa yang tengah bertelaga...
ARAH
Ke utara, ku ikuti arah..
menari hening bersama semilir angin
terbang lagi ke selatan..
memetik risau yang selama ini ku biarkan berdebu
Berjalan ku sedikit,
merangkak ku sering,
sakit ku rasa tak membuat ku murka
aku berkawan setia dengan luka..
Memori itu menguap dan terbakar di udara
aku berusaha membacanya
namun semua kabur... buram..
aku hanya bisa mencumbu udara
memperkosa dingin, dan menjamah dedaunan
Pena ku enggan ku sentuh
kertas ku enggan ku tatap
semua marah, semua murka terhadapku
dan aku harus lari kemana?
Hanya seonggok jiwa lama yang ku punya
yang pernah ada dan kini tengah tersesat di belahan tenggara
peduli siapa jika aku tertawa?
Berjalanlah...
menari hening bersama semilir angin
terbang lagi ke selatan..
memetik risau yang selama ini ku biarkan berdebu
Berjalan ku sedikit,
merangkak ku sering,
sakit ku rasa tak membuat ku murka
aku berkawan setia dengan luka..
Memori itu menguap dan terbakar di udara
aku berusaha membacanya
namun semua kabur... buram..
aku hanya bisa mencumbu udara
memperkosa dingin, dan menjamah dedaunan
Pena ku enggan ku sentuh
kertas ku enggan ku tatap
semua marah, semua murka terhadapku
dan aku harus lari kemana?
Hanya seonggok jiwa lama yang ku punya
yang pernah ada dan kini tengah tersesat di belahan tenggara
peduli siapa jika aku tertawa?
Berjalanlah...
Selasa, 25 Oktober 2016
MINOR
Dan aku
bergumul dengan denting waktu
Disitu
aku tahu kita sama rasa, sama gila..
Dengan ucapan
peluh serta degupan meracau
Dua jiwa
yang terbelah-belah..
Hingga
menghinggaplah segala macam lelah..
Temaram
kelam tetap menjadi ksatria
Dalam
mengumpulkan energi yang habis diracuni,
Ketika
di siang hari..
Ketika
orang lain bernafas dan aku berhenti..
Ketika
orang lain menyulam cinta dan aku memekik ringkih
Aku
menertawakan hasrat yang maju mundur tak berdaya
Hasrat
yang bahkan belum mampu menembus kulitku,
Dan kau
menganalisa sekumpulan cahaya..
Membias
dan berpendar meresap ke dalam lipatan jiwa
Aku
sekumpulan minor yang sulit menyatu,
Dan kau
serumpun mayor yang kokoh merayu
Tetap
sulit diterjang tubuhku meskipun begitu,
Tetap butuh
pesawat luar angkasa untuk sekedar kau rengkuh
Kita
mengalun dalam tangga nada,
Nyanyian
sumbang dan stagnan,
Menyelip
bebas ke aliran angan
Aku
minor dalam perihal resistensi
Dan kau
mayor dalam perihal substansi..
Sabtu, 17 September 2016
PASAR
Aku riuh di tengah kemarau panjang..
Mengeluh dan mengelu-elukan panas yang berlubang
Ramai di luar dan tak berarti di dalam
Menyusuri ombak besar dan Lili yang tertanam
Aku tertegun di tengah pasar,
Mencabik-cabik cakrawala dalam hingar bingar
Peduli apa aku pada kelakar?
Aku termangu melihat anak di sudut itu
Ia lapar, ia mencari cari sampai terkapar..
Aku sudah tak tahan berada di pasar
Kerumunan ini begitu menyiksa
Aku butuh nafas,
Butuh luka dan tawa,
Butuh air mata dan cinta
Butuh senjata untuk mendua..
Kembali aku berjalan liar
Aku masih di kerumunan pasar..
Dimanakah pintu itu, yang sering disebut pintu
keluar?
Yang ku temukan hanya muka-muka dua, bahkan tiga
Bertebaran senyum nan rupawan
Aku muak berada di pasar,
Merasa iritasi terhadap sekitar..
Banyak manusia mengais sisa sisa busuknya jiwa,
Dan aku bukanlah pengemis yang sebegitu nya.
Langganan:
Postingan (Atom)